Indogamers.com — Tak terasa sudah 10 tahun, Mobile Legends hadir menemani para pemain diseluruh penjuru dunia. Dalam rentang waktu sepuluh tahun, game besutan Moonton ini telah bertransformasi dari sekadar permainan ponsel yang sering diidentikkan dengan tampilan sederhana dan turnamen skala mall, menjadi salah satu pilar industri esports terbesar di dunia.
Kini, panggung arena Mobile Legends tak lagi bertempat di atrium pusat perbelanjaan, melainkan di tempat - tempat megah bertaraf internasional hingga ajang bergengsi kelas dunia seperti Esports World Cup (EWC). Namun, di balik angka sepuluh tahun dan kemegahan panggungnya, nyawa utama Mobile Legends tetap terletak pada komunitas dan para penggemarnya yang setia mengawal dari masa ke masa.
Bagi mereka yang mengikuti perjalanan Mobile Legends sejak era awal, perubahan yang terjadi selama satu dekade terasa luar biasa. Ciro, seorang super fans yang telah aktif bermain sejak 2019, mengenang bagaimana Mobile Legends tumbuh pesat baik dari segi gameplay maupun ekosistem esports-nya.
"Aku ngelihat perkembangannya sih cukup pesat ya. Sepuluh tahun tuh waktu yang singkat, tapi perkembangannya luar biasa," ungkap Ciro saat mengingat masa-masa awal ia bermain dengan hero favorit pertamanya, Johnson.
Perubahan grafis dan mekanik game menjadi salah satu aspek yang paling terasa. Jika dahulu Mobile Legends sempat dijuluki game 'burik' dengan satu pilihan peta (map) yang sederhana, kini pemain disuguhkan dengan sistem dinamis yang kompleks.
"Dari map yang tadinya satu aja, sekarang udah ada empat sampai tujuh variasi update terbaru, ada Flying Cloud, Healing Turtle, Golden Turret, sampai Expanding River. Perubahannya udah jauh banget dari ML pertama yang kita kenal," lanjutnya.
Nostalgia masa lalu pun tak lepas dari kenangan akan elemen-elemen ikonik yang kini telah tiada, salah satunya item jungle klasik Raptor Machete. "Kalau aku paling kangen sama Raptor Machete. Enak kan, enggak harus pakai Retribution dulu kalau mau nge-jungle," kenang Ciro.
Bertahan dan tetap relevan selama 10 tahun di industri game mobile yang dinamis bukanlah perkara mudah. Menurut Ciro, kunci keberhasilan Mobile Legends terletak pada strategi pemasaran dan pengemasan hiburan yang konsisten sejak awal.
"Dari awal, campaign mereka lumayan bikin booming. Dulu ada fenomena cakar-cakaran yang bikin ramai, terus ada ikon-ikon seperti Jess No Limit dan Lemon yang ngebangun MLBB dari zaman dulu sampai sekarang. Selain itu, scene kompetitif dan entertainment-nya dapet banget buat esports di Indonesia," paparnya.
Perkembangan skena profesional ini membawa perubahan besar pada budaya menonton esports. Turnamen yang dahulunya diadakan secara terbatas, kini dikemas menjadi pertunjukan hiburan kelas atas di panggung-panggung seperti MPL dan M-Series.
Di tengah besarnya ekosistem Mobile Legends, cerita-cerita personal dari para penggemar menjadi warna tersendiri. Ciro, yang telah menjadi pendukung setia Alter Ego Esports sejak 2020 (MPL ID Season 6), merasakan betul bagaimana suka duka menjadi seorang super fans.
Bagi Ciro, mendukung tim kesayangannya bukan sekadar soal seberapa banyak piala yang diraih, melainkan tentang ikatan emosional dan perjalanan bersama.
"Sebenarnya sedih terus sih, karena mereka kayak belum rezeki terus buat dapatin piala. Cuman yang bikin aku nangis terharu itu waktu kita balik lagi ke panggung M-World Series. Walaupun enggak dapat piala, tapi melihat tim yang kita dukung bisa masuk ke panggung kasta tertinggi itu yang paling bikin terharu," akunya.
Dukungan tersebut juga menuntut pengorbanan perasaan. "Pengorbanan sih enggak gitu banyak, karena kita dukung sambil menikmati aja, sambilan kerja atau nugas. Cuman paling yang dikorbanin hati ya, karena nontonnya deg-degan. Ngorbanin perasaan buat nontonin tim yang rada bikin deg-degan," tambah Ciro sembari tertawa.
Memasuki dekade kedua, harapan besar digantungkan oleh para pemain dan penggemar agar Mobile Legends terus bertumbuh menjadi ekosistem yang lebih sehat, inklusif, dan makin kompetitif.
"Harapan terbesar semoga komunitas ini makin besar dan makin baik, makin berkurang orang-orang toxic-nya. Terus game-nya makin berkembang lagi dengan inovasi-inovasi baru. Buat esports-nya mungkin lebih kompetitif lagi, juaranya enggak itu-itu mulu," tutur Ciro.
Sedangkan untuk Alter Ego, rasa penasaran melihat tim kesayangannya mengangkat piala tetap menjadi alasan utama mengapa ia tidak pernah berpaling.
"Gak sabar aja kalau misalnya mereka beneran dapat gelar juara, apa pun itu, khususnya juara MPL. Itu bakal senang banget sih, dan itu yang bikin aku mantap buat dukung mereka sampai sekarang," tutupnya.