Selasa, 7 Juli 2026 Update 18:51 WIB
Portal berita game, gadget, mobile, dan e-sport

GameNews Update

Portal update game, gadget, esport, dan teknologi terbaru

Sorotan Hari IniPortal Gaming Indonesia

Pemain Mengeluh Cheater Valorant Melonjak, Bos Anti-Cheat Riot Games Beri Klarifikasi(FOTO: Dexerto)

Pemain Mengeluh Cheater Valorant Melonjak, Bos Anti-Cheat Riot Games Beri Klarifikasi(FOTO: Dexerto)
Pemain Mengeluh Cheater Valorant Melonjak, Bos Anti-Cheat Riot Games Beri Klarifikasi(FOTO: Dexerto) Pemain Mengeluh Cheater Valorant Melonjak, Bos Anti-Cheat Riot Games Beri Klarifikasi(FOTO: Dexerto) Pemain Mengeluh Cheater Valorant Melonjak, Bos Anti-Cheat Riot Games Beri Klarifikasi(FOTO: Dexerto) Pemain Mengeluh Cheater Valorant Melonjak, Bos Anti-Cheat Riot Games Beri Klarifikasi(FOTO: Dexerto) Pemain Mengeluh Cheater Valorant Melonjak, Bos Anti-Cheat Riot Games Beri Klarifikasi(FOTO: Dexerto) Pemain Mengeluh Cheater Valorant Melonjak, Bos Anti-Cheat Riot Games Beri Klarifikasi(FOTO: Dexerto)

Pemain Mengeluh Cheater Valorant Melonjak, Bos Anti-Cheat Riot Games Beri KlarifikasiRiot Games angkat bicara setelah pro player dan komunitas mengeluhkan lonjakan cheater di Valorant. Benarkah sistem anti-cheat Vanguard kebobolan?

Tampilkan SelengkapnyaSembunyikan Artikel

Indogamers.com - Pihak Riot Games akhirnya memberikan respons resmi setelah komunitas pemain Valorant mengeluhkan adanya lonjakan tajam jumlah pelaku kecurangan (cheater) dalam sepekan terakhir. Kepala divisi anti-cheat Valorant, Phillip Koskinas, mengakui bahwa aktivitas penggunaan program ilegal saat ini memang menjadi "lebih umum" terjadi di dalam game bergenre tactical shooter tersebut.

Gelombang keluhan ini mencuat setelah sejumlah pemain, termasuk pemain profesional ternama Subroza, melontarkan kritik keras di media sosial mengenai efektivitas sistem keamanan teranyar Valorant. Subroza bahkan secara blak-blakan menyebut sistem pertahanan game ini mulai kewalahan menghadapi gempuran peretas di level kompetitif tertinggi.

"Anti-cheat Valorant adalah yang terburuk dari semua game populer di level tinggi. Pembaruan mereka hanya bertahan 2 hari setelah babak baru dimulai, dan setelah itu ada 20.000 cheater per pertandingan," protes pro player tersebut.

Menanggapi keluhan yang viral tersebut, Phillip Koskinas langsung memeriksa laporan masuk dan memberikan penjelasan teknis. Menurutnya, setelah ditelusuri, sebagian besar kecurigaan pemain profesional dipicu oleh aksi stream sniping (mengintip siaran langsung) dan bukan karena penggunaan program pihak ketiga.

"Memeriksa laporan Anda, dan hampir semua yang dituduh tidak berbuat curang. Satu-satunya pemain yang terbukti curang sudah diblokir," jawab Koskinas menanggapi laporan spesifik dari Subroza.

Meskipun menyangkal tuduhan bahwa sistem pertahanan mereka lumpuh total, Koskinas tidak menampik bahwa ada peningkatan aktivitas peretasan yang cukup signifikan di hampir seluruh peringkat kompetitif (rank) saat ini.

"Pasti lebih umum sekarang, sekitar 2x lebih banyak pemblokiran per hari di sebagian besar peringkat," ungkap Koskinas kepada pemain lain.

Lebih lanjut, ia menjelaskan fenomena mengapa para pemain merasa cheater saat ini terlihat sangat banyak di dalam pertandingan. Rupanya, para peretas masa kini sudah tidak lagi menyembunyikan tindakan ilegal mereka demi bermain aman, melainkan langsung bertindak agresif sejak awal laga.

"Namun, sebagian dari ini karena para cheater tidak lagi benar-benar mencoba menipu secara diam-diam, mereka hanya masuk kembali dan mulai menembak secara brutal."

"Banyak cheat tiruan di luar sana saat ini. Kami memang menindak mereka dengan mudah setelahnya, tetapi kami melihat lebih banyak upaya hanya karena daya tarik untuk menyuruh Claude membuat Anda menjadi radiant," tambahnya kemudian.

Pemberantasan cheater dalam dunia game multipemain memang kerap kali diibaratkan seperti permainan memukul tikus mondok (whack-a-mole), di mana saat satu penjual cheat ditumbangkan, peretas baru akan selalu muncul menggantikannya. Selama ini, sistem Vanguard berbasis kernel milik Riot Games dikenal sebagai salah satu proteksi paling efektif di industri game, meskipun sempat menuai pro dan kontra karena sifat operasinya yang sangat mendalam pada sistem komputer.

Sebagai langkah transparansi, bos anti-cheat tersebut juga meminta para pemain untuk terus mengirimkan daftar Riot ID dari riwayat pertandingan mereka agar bisa langsung ditindaklanjuti secara manual. Koskinas sebelumnya juga sempat menyatakan bahwa kehadiran cheater adalah hal yang "tidak terhindarkan," namun Riot Games berkomitmen untuk selalu melakukan tindakan tegas dan menggulirkan gelombang pemblokiran massal (ban waves) secara berkala demi menjaga kenyamanan ekosistem kompetitif Valorant.***